Museum Konferensi Asia Afrika

Sekilas tentang Museum Konferensi Asia Afrika (perkenalan-rute-tarif masuk)

Belajar sejarah di belakang bangku sekolah memang biasanya terasa membosankan. Menghafalkan berbagai peristiwa, tahun, nama, terkadang menyulitkan siswa. Bahkan, ada yang menganggap bahwa belajar sejarah itu tidak penting dan hanya membuang-buang waktu saja. Padahal, dengan belajar sejarah, kita dapat meneladani kejayaan orang-orang atau organisasi terdahulu dan mengambil hikmah dari orang-orang atau organisasi yang menjadi sisi gelap dari sejarah.

Untungnya, kamu tidak perlu khawatir dengan pelajaran sejarah yang terasa membosankan lalu tidak dapat mengambil hikmahnya. Soalnya, terdapat kejayaan Indonesia beserta negara-negara di Asia Afrika yang dapat kita teladani. Serunya lagi, kejayaan tersebut diabadikan dalam sebuah museum. Kejayaan tersebut ialah Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan pada tahun 1955 di Kota Bandung, Indonesia. Konferensi ini turut berperan dalam perdamaian dunia, lho. Selain itu, Bandung juga ditetapkan menjadi ibu kota Asia Afrika. Benar-benar keren, kan?

Sebagai warga Indonesia yang baik, tentunya kamu bangga kan? Oleh karena itu, dalam rangka belajar dari sejarah dengan menyenangkan dan mengasyikkan serta mengapresiasi konferensi tersebut, maka hayuk berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika ! Untuk memasuki museum ini, kamu tidak perlu merogoh kocek karena tidak ada biaya sepeser pun alias gratis.

Museum yang terletak di Jl. Asia Afrika No. 65, Bandung ini memiliki desain arsitektur art deco dengan lantai berbahan marmer yang didatangkan langsung dari Italia. Ruangan di museum ini juga dibuat dengan kayu berkualitas pilihan, yaitu Cikenhout. Penerangan di museum ini cenderung gemerlap sehingga menimbulkan kesan mewah. Tentunya bisa menjadi spot yang fotoable, ya.

1. Sejarah Museum Konferensi Asia Afrika

Sebelum melangkahkan kaki ke Museum ini, ada baiknya kamu mengenali sejarah museum Konferensi Asia Afrika. Dengan begitu, ketika kamu melihat koleksi-koleksi di museum ini, maka kamu akan langsung connect dalam memahaminya.

Konferensi Asia Afrika dilaksanakan pada tanggal 18 April hingga 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Lalu, mengapa konferensi ini diadakan? Jadi, pada tanggal 23 Agustus 1953, Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo menyampaikan aspirasi bahwa perlunya diadakan kerja sama antara Asia Afrika kepada Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Kerja sama ini dimaksudkan untuk kedamaian dunia.

Hal ini dikarenakan kesamaan nasib antara negara-negara di Asia dan Afrika yang baru saja merdeka karena ditunda-tunda oleh negara penjajah, bahkan ada pula negara yang belum merdeka, yaitu Aljazair dan Maroko. Oleh karena itu, delegasi Indonesia menyampaikan masukan mengenai perlu adanya Konferensi Asia Afrika dalam Persidangan Kolombo di Srilanka pada tanggal 25 April-2Mei 1954.

Negara-negara yang menghadiri persidangan yakni Srilanka, India, Pakistan, Burma (Myanmar), dan tentunya Indonesia pun setuju dengan usulan itu. Nah, pada tanggal 28 Desember – 29 Desember 1954, diadakan persidangan Bogor untuk membicarakan mengenai persiapan Konferensi Asia Afrika. Sidang ini membahas tujuan konferensi dan negara mana saja yang akan diundang.

Pada tanggal 18 April – 24 April 1955, Konferensi Asia-Afrika pun dilaksanakan dan dihadiri oleh 29 negara dari Asia Afrika. Sebenarnya, ada 30 negara yang diundang. Namun, 1 negara yang tidak menghadiri KAA 1 karena terdapat perang saudara di negaranya, yakni Swaziland. Konferensi Asia Afrika berjalan sukses dan menghasilkan deklarasi penting, yaitu Dasasila Bandung. Isi dari Dasasia Bandung, yaitu :

Dasasila Bandung

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas -asas yang termuat di dalam piagam PBB ( Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  6. Tidak menggunakan peraturan- peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Isi dari Dasasila Bandung memiliki tujuan yang mulia, kan? Keren banget.
Sekarang, kita lanjut ke ulasan mengenai isi Museum Konferensi Asia Afrika. Tujuannya ialah agar kamu lebih tertarik mengunjunginya. Langsung saja, check this out !

Apa Saja di Konferensi Asia Afrika

Museum Konferensi Asia Afrika secara garis besar terdiri atas 4 ruangan utama, yaitu ruang pamer, ruang perpustakaan, ruang audio visual, dan ruang Konferensi Asia Afrika. Mari kita kupas satu per satu.

  1. Ruang Pamer

Di ruangan ini, kamu dapat melihat dengan jelas berbagai benda 3 dimensi beserta dokumen berupa foto yang menggambarkan Peristiwa Pertemuan Tugu,  Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, Konferensi Asia Afrika. Peristiwa-peristiwa tersebut melatarbelakangi lahirnya Konferensi Asia Afrika. Melihat foto-foto tokoh nasional maupun tokoh luar negeri Asia Afrika tentunya sangat mengasyikkan.

Ruang pamer ini juga memberikan kita pelajaran untuk memperjuangkan sesuatu dengan saling berbicara atau berdiskusi, bukan dengan gencatan senjata yang menimbulkan kerugian bagi banyak orang.

  1. Ruang Perpustakaan

Bagi kamu yang sangat suka membaca, jangan sebut diri kamu “si kutu buku yang imut” jika berkunjung ke museum ini tanpa memasuki ruang perpustakaannya. Di sini, kamu dapat menemukan koleksi buku tentang sejarah, sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di Asia Afrika.

Selain itu, terdapat dokumen – dokumen  Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi sebelumnya yang melatarbelakangi lahirnya KAA, yaitu Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor. Perpustakaan ini juga menyediakan Braille Corner untuk tunanetra. Pelayanannya spesial banget, kan? Pantas saja jika museum ini meraih penghargaan untuk kedua kalinya sebagai museum menyenangkan.

  1. Ruang Audio Visual

Bukan hanya di bioskop, ternyata kamu pun dapat nonton di museum ini. Film-film dokumenter yang ditayangkan tentunya berkualitas dan dapat memberikan pemahaman yang sangat jelas, baik  mengenai Konferensi Asia Afrika, Konferensi lanjutannya, maupun kisah yang mengangkat kebudayaan negara-negara di wilayah Asia dan Afrika.

Tidak hanya itu, kamu juga dapat menyimak film yang menggambarkan keadaan dunia di tahun 1950-an, saat beberapa negara di dunia berkecamuk dalam peran dingin, termasuk Amerika Serikat dan Uni Soviet.

  1. Ruang Konferensi Asia Afrika

Di ruangan inilah pada tahun 1955, Konferensi Asia Afrika terlaksana. Ruangan ini menjadi saksi persaudaraan antara Asia afrika. Ketika kamu memasukinya, maka atmosfir khidmat sungguh terasa di ruangan ini. Ruangan Konferensi Asia Afrika terdiri atas kursi-kursi yang berjejer rapi, kemudian terdapat panggung yang di atasnya ada podium. Podium ini sebagai tempat pemimpin bangsa ini berpidato. Selain itu,  di atas panggung juga terdapat bendera-bendera negara peserta KAA. Cocok buat jadi spot foto, nih.

Itulah tadi ulasan mengenai Museum Konferensi Asia Afrika. Hayuk, kunjungi museum ini dan jadilah bangga dengan Indonesia !

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *