Kampung Naga – Kampung di Lembah Tasikmalaya

sumber: travel.kompas.com

Di beberapa pelosok Jawa Barat, masih terdapat beberapa kampung yang menjaga adat istiadatnya. Keteguhan mereka dalam menjaga adat istiadatnya itu membuat mereka menjadi daya tarik tersendiri di mata orang luar. Salah satu kamppung tersebut adalah Kampung Naga.

Kampung yang berada di wilayah lembah ini masih berpegang teguh pada adat istiadatnya, kendatipun modernitas sudah kian merasauk ke dalam diri masyarakat kita. Mereka percaya bahwa mempertahankan adat istiadat mereka adalah sama dengan menghormati para lluhur kampung mereka. Dan mereka juga percaya jika bencana akan menimpa jika mereka melanggar semua aturan adat di kampung yang masuk wilayah Tasikmalaya tersebut.

Kampung ini sempat ditutup untuk umum oleh para warga. Setlah diselidiki, ternyata faktor penyebab ditutupnya kampung tersebut adalah karena ketidaknyaman para warga untuk dijadikan objek tontonan bagi orang asing.

Keindahan Kampung Naga

sumber: funtasix.blogspot.com

Selain adat istiadatnya yang masih tetap terjaga, keindahan kampung ini juga tetap terjaga keindahannya. Saat kita pertama kali datang ke kampung ini, kita akan suburnya tanaman-tanaman di lembah yang tak jauh dari kampung ini. Di perbatasan antara perkampungan dan lembah, terdapat sebeuah hutan yang dikeramatkan oleh masayrakat Kampung Naga. Dikeramatkannya hutan tersebut disebabkan karena adanya makam para leluhur mereka di hutan yang rimbun tersebut.

Di selatan perkampungan, kita akan melihat pesawahan milik warga yang berwarna kehijauan. Di sebelah uatar, kita bisa melihat jernihnya air Cikuray yang airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut. Jika kita datang dari Garut, maka kita akan menemui sejumlah anak tangga yang merupakan akses menuju kampung tradisional ini. Tangga ini bisa dibilang unik, karena jumlah anak tangganya yang tidak menentu. Setiap orang yang pernah menapaki tangga ini pasti mempunyai prakiraan jumlah anak tangga berdasarkan pengalaman mereka menapaki tangga tersebut.

Di bagian dalam perkampungan, kita bisa melihat keindahan arsitektur bangunan rumah yang masih tradisional. Rumahnya sendiri berbentuk rumah panggun yang mesti berbahan dasar kayu dan bambu. Bagian atapnya sendiri tidak dibuat dari genting, melainkan dari daun nipah, alang-alang, ataupun ijuk. Dinding rumahnya harus terbuat dari anyaman bambu atau bilik dengan pola anyaman sasag, tidak boleh dicata, dan hanya boleh dikapur atau dimeni saja.

sumber: harnas.co

Pennetuan harus di mana rumah mereka dihadapkan juga diatur olleh adat istiadat ini. Di sini, setiap rumah harus mengarah ke utara atau selatan, dan bagian barat atau timurnya hanya perlu diperluas saja.

Beberapa Saran Selama di Kampung Naga

Ada sejumlah saran yang patut diambil saat hendak berkunjung ke kampung ini. Satu, sewa pemandu wisata lokal yang sudah paham luar dalam kampung naga. Dua, harus memberitahu dulu kuncen beberapa hari sebelum nanti kita menginap. Terakhir, jagalah sikap santu n dan menghormati setiap adat di kampung ini, serta bawalah power bank atau cadangan untuk ponselmu. Hal itu patut dilakukan mengingat tak adanya listrik di perkambungan ini.

Referensi:

travel.kompas.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *