Gedung Sate dan Histori nya

Gedung Sate dan Histori nya

Gedung sate adalah gedung yang menjadi ikon kota Bandung dengan ciri khas berupa ornamen tusuk sate yang berada di menara sentral. Gedung ini sudah ada sejak lama dan menjadi maskot kota Bandung yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Seluruh masyarakat Indonesia mengetahui model bangunan yang dijadikan tanda berbagai kota di kawasan Jawa Barat. G

edung yang berada di bagian depan Stasiun Kereta Api wilayah Tasikmalaya memiliki desain yang mirip. Bangunan ini didirikan pada tahun 1920. Gedung sate berwarna cat putih dan berdiri kokoh serta anggun. Gedung ini kini memiliki fungsi sebagai gedung pusat bagi pemerintahan Jawa Barat.

Gedung sate berada di Jalan Dipenegoro Nomer 22. Jika hendak berkunjung kesana biaya masuk gratis. Fasilitas terdekat yang melengkapi ada minimarket, apotek, ATM, dan hotel. Gedung ini sangat dekat letaknya dengan Museum Geologi Bandung dan Museum Pos Indonesia. Pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur Italia dan Indonesia dengan perpaduan Islam dan Hindu hanya akhir pekan dan hari libur nasional.

Wisatawan dapat langsung masuk ke gedung dengan meminta ijin pada petugas keamanan.Pada hari minggu terdapat pasar kaget tepat di depan gedung sate, yakni di area Gasibu. Pengunjung juga dapat menikmati fasilitas olahraga umum di lapangan Gasibu Bandung.

Sejarah Gedung Sate

Gedung Sate dibangun sejak masa Hindia Belanda. Gedung tersebut dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven (GB). Awal pembanguanan peletakan batu yang pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops. Wanita itu adalah putri sulung dari Walikota Bandung dahulu. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 Juli 1920. Gedung tersebut merupakan hasil pekerjaan sebuah tim yang terdiri dari Ir J. Gerber,  Ir Eh. De. Roo serta pihak Gemeente van Bandoeng yang salah satu diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors.

Pembangunan gedung bersejarah ini melibatkan 2000 pekerja dengan 150 orang pemahat. Banyak ahli bongpay pengukir batu nisan dan ahli pengukir kayu berkebangsaan Cina yang turut serta dalam pembangunan. Banyak bantuan dari kuli aduk dan peladen yang merupakan warga lokal Sekeloa, Coblong Dago, Gandok, dan Cibarengkok.

Pembangunan membutuhkan waktu 4 tahun dan selesai pada bulan September 1924. Pembangunan lain turut mendukung seperti Gouverments Bedrijven atau bangunan kantor pusat PTT. Arsitek yang desain Gedung Sate adalah Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang bernuansa tradisional Nusantara. Ahli arsitek dari berbagai negara memuji bangunan yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur dari Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl.

Kekuatan Gedung Sate karena bahan bak bangunan dan teknik konstruksi yang digunakan. Dinding bangunan Gedung Sate dirangkai dari banyak kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m). Batu tersebut berasal dari kawasan bukit batu di Bandung timur tepatnya di sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Gedung Sate memiliki luas lahan 27.990,859 m². Luas bangunan gedung sate 10.877,734 m².

Ruangan di Gedung Sate Bandung

Gerber merancang perpaduan Italia, pagoda, dan lain – lain. Gerber menambahkan puncak dengan tusuk sate. Sate berjumlah enam buah, disebutkan pada versi lain, ornamen tersebut merupakan jambu air atau melati. Jambu atau melati melambangkan 6 juta gulden yakni biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung tersebut.

Ornamen tersebut dibuat dari batu yang terletak pada bagian atas pintu utama Gedung. Ornamen sate seringkali dikaitkan dengan bangunan candi Borobudur. Berikut adalah berbagai ruangan dan fasilitas yang ada di lantai II Gedung Sate

  • Ruang kerja Gubernur
  • Ruang kerja Wakil Gubernur
  • Sekretaris Daerah
  • Para Assisten dan Biro.

Pada gedung bagian timur dan barat ditemukan dua ruangan besar seperti mengingatkan ball room ala eropa. Ruangan besar ini memiliki sebutan aula barat dan aula timur. Pada aula tersebut sering digunakan untuk berbagai kegiatan resmi. Pada kedua aula tersebut terdapat banyak ruangan yang di tempati oleh beberapa Biro dengan Staf.

Pada lantai paling atas terdapat lantai terdapat Menara Gedung Sate. Lantai ini tidak dapat dilihat dari lantai bawah. Jika ingin melihat menara dapat menggunakan lift untuk menuju ke atas atau dengan menaiki tangga kayu.

Gedung Sate seringkali dibandingkan dengan berbagai bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di ibukota negara. Persamaannya dari semua bangunan ini memiliki kompleks hijau dan menara sentral yang sangat megah. Segi letak gedung sate serta lanskap gedung tersebut mirip dengan Gedung Putih di Washington Amerika Serikat.

Rute Gedung Sate

  • Jika berada di wilayah Dago Plaza dan hendak ke gedung sate dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan Dipenegoro (900 meter).
  • Perjalanan dapat dilakukan dari persimpangan Jalan RE Martadinata (Riau) berjarak kurang lebih 1 km.
  • Perjalanan dari Jalan Banda juga dapat ditempuh kurang lebih 1 km.
  • Perjalanan dari Jalan Merdeka di Bandung Indah Plaza sekitar 1,7 km.
  • Bis Damri Jurusan Jatinangor – Dipatiukur melewati gedung geologi dan gedung sate.
  • Jika berada di Terminal Cicaheum dapat ditempuh dengan naik angkot jurusan cicaheum – ledeng kemudian turun di depan PUSDAI (Pusat Dakwah Islam). Jalan kaki ke gedung sate sekitar 100 meter.

Hotel Sekitar Gedung Sate

  1. Amaris Hotel (Jarak tempuh 1 menit)
  2. Hotel Citarum (Jarak tempuh 1 menit)
  3. Hotel Vio (Jarak tempuh 1 menit)
  4. Guest House Tamara (Jarak tempuh 2 menit)
  5. Hotel Progo (Jarak tempuh 2 menit)
  6. Hotel Corsica (Jarak tempuh 2 menit)
  7. Hotel Mitra (Jarak tempuh 2 menit)
  8. Tibera Hotel (Jarak tempuh 2 menit)
  9. De Riau Guest House (Jarak tempuh 2 menit)
  10. Hotel Barito Shinta (Jarak tempuh 2 menit)

Kuliner di Sekitar Gedung Sate

  1. Nasi Bakar

Rumah makan nasi bakar 15 Cimandiri merupakan kuliner yang dibungkus dengan daun pisang kemudian di bakar. Lauk yang dapat ditemukan yaitu ikan teri, daging ayam, dan lain – lain. Sebelum dibakar nasi diberi bumbu yang khas.

Nasi bakar ini sudah dikenal sebagai salah satu nasi bakar favorit yang berada di jalan Cimandiri, belakang gedung sate. Menu ini dapat dinikmati dengan lesehan dan duduk di kursi. Harga per porsi sangat terjangkau, cukup Rp 20.000.

  1. Sate Bakar Cimandiri

Kuliner ini masih berada di belakang gedung sate. Sate kaki lima ini sudah dikenal sejak lama. Pengunjung selalu datang silih berganti untuk menikmati sate ini. Harga untuk satu porsi hanya Rp 15.000. Sate khas madura ini dapat dinikmati mulai dari jam 3 sore.

  1. Alas Daun

Rumah makan alas daun adalah tempat makan kelas resto yang menyajikan menu khas sunda. Makanan disini disajikan dengan beralaskan daun. Berbagai lalaban sunda dapar dinikmati dengan harga yang murah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *