Cagar Budaya Gedung Sate di Bandung

Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi Bandung tanpa bertandang ke Gedung Sate. Ya, Gedung Sate adalah satu landmark Kota Bandung. Jadi, istilahnya teh belum ke Bandung kalau belum ke Gedung Sateceunah.

Gedung yang satu ini terletak di Jl. Diponegoro No. 22. Letak Gedung Sate sangat strategis dan berdekatan dengan berbagai objek wisata, seperti Museum Geologi, Museum Konferensi Asia Afrika, Taman Lansia, Taman Lalu Lintas, Museum Pos Indonesia, Trans Studio Bandung, dan masih banyak lagi.

Jadi, setelah mengunjungi Gedung Sate, kamu dapat plesiran ke beberapa destinasi wisata tersebut dan urutan perjalanan seperti ini sangat sering menjadi bagian dari paket wisata Bandung yang sering diambil oleh para wisatawan. Sejatinya, Gedung Sate merupakan kantor gubernur Jawa Barat.

Dengan tampilan warna khas putih, gedung ini dijuluki sebagai ‘White House’ nya Bandung. Meskipun merupakan kantor pemerintahan, sekarang Gedung Sate terbuka untuk umum. Di basement Gedung Sate, terdapat museum yang dapat dikunjungi oleh warga Bandung serta wisatawan domestik maupun mancanegara.

Gedung Sate Bandung

Museum ini akan menginformasikan kepada pengunjung mengenai sejarah pembangunan Gedung Sate. Tidak hanya itu, museum ini sangat keren dan kekinian karena dilengkapi teknologi digital interaktif yang sangat canggih. Oleh karena itu, sebagai kids jaman now yang tertarik dengan sejarah maupun kids jaman old yang ingin nostalgia dalam sejarah yang dibalut kesan futuristik, maka kunjungilah Museum Gedung Sate ini.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai Museum Gedung Sate, ada baiknya simak sejarah menarik dari Gedung Sate. Check this out !

Gedung Sate mulai dibangun pada tanggal 27 Juli 1920 dan selesai setelah 4 tahun kemudian, yakni pada bulan September 1924. Peletakan batu pertama gedung ini dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Wali kota Bandung saat zaman Hindia Belanda, yakni B. Coops. Ia didampingi oleh Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum.

Gedung Sate

Gedung Sate didesain oleh Ir. J. Gerber, arsitek muda saat itu yang merupakan alumni fakultas teknik Delft Nederland. J. Gerber dibantu oleh beberapa partner, yakni Ir. Eh. De Roo, Ir. G. Hendriks, tim Gemeente van Bandoeng yang dipimpin oleh Kol. Pur. VL.

Gedung Sate dibangun dengan kualitas dan keindahan arsitektur Indo-Eropa (timur dan barat) di setiap bagiannya. Hal ini membuat Gedung Sate sangat unik dan dikagumi oleh arsitek dari dalam maupun luar negeri.

Keindahan Gedung Sate juga tentunya tidak terlepas dari peran 2000 pekerja yang memiliki berbagai tugas, yakni memahat, mengukir batu dan kayu, tukang batu, kuli yang mengaduk bahan bangunan, dan sebagainya. Mereka berasal dari berbagai kampung di daerah Bandung, diantaranya Kampung Sekeloa, Kampung Gandok, Kmpung Coblong Dago, Kampung Cibarengkok.

Ada juga 150 pemahat atau pengukir yang berkebangsaan Cina. Kerennya lagi, mereka semua dibayar. Jadi, dalam pembangunan Gedung Sate, tidak ada keringat yang terbuang sia-sia layaknya keringat pekerja romusha. Gedung Sate dulunya bernama Gouvernements Bedrijven (GB).

Tujuan awal pembuatannya ialah sebagai gedung bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum. Ternyata, gedung indah ini beralih digunakan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia. Ya, Belanda berpendapat bahwa Batavia sudah tidak aman dan nyaman lagi sebagai kota pusat pemerintahan karena perkembangannya yang terlalu pesat.

Sekedar informasi, di luar negeri, biasanya ibu kota pemerintahan negara terpisah dengan ibu kota metropolitan sebagai pusat bisnis sebuah negara. Oleh karena itu, pusat pemerintahan ingin dipindahkan ke Bandung karena kota ini cukup tenang kala itu.

gedung sate zaman dulu
Fotograaf
[onbekend]
Bijschrift (NL)
Namen
Werelddeel/land
Plaatsnaam
Bandung
Trefwoorden
Beschrijving door fotograaf
[collectie Wereldmuseum]
Opnamedatum op/vanaf
Kleur / Zwart/wit
Object
Afdruk
Inventarisnummer
WMR / 909881 / –
Nummer afbeelding
e6927d43-2ce3-1613-d782-8a6f20c07b0e
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 3 Desember 1945, pasukan Gurkha (Pasukan sekutu Inggris) yang dikoordinatori oleh Belanda berusaha untuk menyerang Gedung Sate. Hal ini dikarenakan Belanda ingin mengambil kembali asetnya yang berada di tanah air Indonesia. Melihat hal tersebut, para pemuda Kota Bandung mencoba untuk mempertahankan Gedung Sate. Pertahanan tersebut berhasil.

Sayangnya, ada 7 pemuda yang tewas pada insiden itu. Sebagai penghargaan atas jasa mereka, maka dibuatlah tugu batu di halaman belakang gedung ini. Pada 3 Desember 1970, tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate atas perintah dari Menteri Pekerjaan Umum di masa itu. Pada tahun 1980, Gedung Sate menjadi kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Sebelumnya, kantor Gubernur bertempat di Gedung Kerta Mukti yang beralamat di Jalan Braga, Bandung. Terlepas dari sejarahnya yang panjang, gedung berlantai 3 ini mungkin memberikan rasa penasaran pada warga maupun pelancong Bandung mengenai penamaannya.

Gedung ini dinamakan Gedung Sate karena merujuk pada pernak-pernik berbentuk sate pada pucuk gedung ini. Enam buah sate pada sebuah tusukan ini memiliki makna tersendiri, yakni biaya pembangunan gedung yang menghabiskan 6 Juta Gulden.

Selain itu, arsitekturnya yang berbeda dari gedung-gedung lainnya membuat gedung ini memiliki warna tersendiri. Tidak hanya itu, paduan desain menara yang mirip pura atau pagoda, desain jendela yang bertema moor Spanyol, dan ba dan gedung yang memiliki desain renaissance Italia membuatnya menjadi gedung terindah di Indonesia.

Sebagai rasa bangga atas Indonesia yang memiliki gedung seindah ini, maka kunjungilah museum Gedung Sate. Di sana, kamu dapat belajar banyak hal yang berharga. Apa saja yang dapat kamu lakukan di museum Gedung Sate? Check this out !

Menyimak informasi melalui layar sentuh yang menampilkan grafis menarik dari Gedung Sate

Masa sekarang adalah zamannya teknologi layar sentuh, termasuk pada benda yang menemani kita pagi-siang-sore-malam, yaitu gadget.

Namun, masih banyak orang yang tidak memanfaatkan gadgetnya untuk belajar. Nah, museum ini akan menginspirasimu untuk belajar menarik melalui layar sentuh. Di sini, kamu dapat menemukan informasi menarik mengenai Gedung Sate dengan hanya menatap layar sentuh.

Memakai kacamata virtual reality yang membuat pengunjung seolah-olah mengelilingi area Gedung Sate dengan balon udara

Di spot ini, kamu akan menaiki sebuah benda yang mirip balon udara, kemudian memakai kacamata virtual reality yang membuatmu dapat berkeliling Gedung Sate.

Hal ini tentunya sangat mengasyikkan karena sebenarnya kamu hanya berdiam diri di tempat, namun merasakan sensasi mengelilingi bangunan ini.

Memasuki ruangan di mana pengunjung merasa seolah-olah berperan dalam proses pembangunan Gedung Sate dengan teknologi augmented reality

Di sini, kamu akan dibawa menuju masa lampau di mana gedung sate masih dalam proses pembangunan. Di sini, kamu merasakan sensasi menjadi mandor yang mengawasi para pekerja di masa itu.

gedung sate di malam hari

Melihat display yang menampilkan desain interior maupun eksterior Gedung Sate

Mengamati desain interior dan eksterior dari Gedung Sate tentu sangat seru. Oleh karena itu, pihak museum menyediakan display yang menarik.

Mengamati tembok yang dilubangi untuk mengetahui struktur dan materialnya

Jika poin-poin di atas menggunakan teknologi, maka di spot ini kamu akan mengamati tembok yang nyata untuk mengetahui struktur dan bahan-bahan pembuatan dari gedung sate. Tahukah kamu bahwa gedung sate dibuat hanya menggunakan batu dan pasir? Penasaran? Silahkan amati tembok ini.

Berfoto

Momen-momen saat berada di museum canggih ini perlu kamu abadikan. Terdapat banyak spot foto menarik di sini. jadi, siapkan kameramu, ya !

Itulah beberapa hal mengenai gedung sate dan historinya. Jika kamu ingin belajar sejarah dengan cara belajar yang kekinian dan kece, kunjungilah gedung sate dan museumnya.
Selamat berwisata !

 

Referensi

1. Wikipedia Gedung Sate – https://en.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate

2. Gedung Sate di 1001wisata

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *